Monday, May 7, 2012

The Pursuit of Healthyness



Penulis : Ade Rai ( Profil Penulis ) 

Kesehatan tidak menarik selagi kita memiliki, menjadi begitu menarik ketika kesehatan itu sudah diambil dari kita. Orang sehat punya ribuan harapan... Tapi orang yang sehatnya diambil, hanya punya satu harapan, yaitu sembuh.

Sakit adalah hal yang paling konsumtif dan boros. Menghabiskan uang & harta untuk mendapatkan kembali apa yang dulu sudah ada.

Sakit sangat merugikan, sudah jatuh tertimpa tangga. Rasanya sangat tidak enak, sudah tidak produktif malah semakin konsumtif, meresahkan, dan merepotkan orang yang menyayangi kita.

Sehat sangat menguntungkan, untung berlipat ganda. Rasanya enak, dan menjadi modal untuk semakin produktif dan bermanfaat untuk banya orang. Usia harapan hidup lebih panjang, waktu untuk menyayangi dan mengasihi orang yang kita cintai semakin panjang dan berkualitas.

Adalah diri sendiri yang mengkhianati atau setia pada kesehatan. Tidak mungkin menjalankan kebiasaan tidak sehat, tetapi ingin hasil yang sehat. Minta ampun saja tidak cukup untuk masuk surga, diperlukan juga surplus besar perbuatan baik.

Olahraga, nutrisi, dan istirahat teratur...begitu sederhana! Jalankan tanpa alasan, pelajari sambil lakukan, miliki lingkungan yang sehat, dan tingkatkan standarnya minggu demi minggu. Semakin awal dijalankan, semakin panjang kita menikmati manfaatnya.

Jangan remehkan kemampuan kita untuk beradaptasi, apa yang awalnya sulit, lama-lama semakin mudah.

Keberhasilan dalam hidup sehat bukan saat kita meraih kesehatan / bentuk fisik prima saja, tetapi juga dalam keseharian kita menjalankan dan menambah kebiasaan sehat dengan standar eksekusi yang lebih baik.

If you are strong, don''t say it...prove it.

Stay strong..!_____________________________
Follow Ade Rai @CerdasFitness

Ruginya Mengurangi Jumlah dan Frekuensi Makan



Penulis : Ade Rai ( Profil Penulis ) 

Kebanyakan orang memiliki logika bahwa untuk menurunkan berat badan, perlu melakukan hal-hal yang berlawanan dengan peningkatan berat badan. Apabila berat badan naik karena banyak makan dan kurang olahraga, maka yang sering dilakukan untuk menurunkan berat badan tersebut adalah dengan banyak olahraga dan kurang makan.

Namun, mengurangi makan sering diasosiasikan dengan mengurangi UKURAN dan FREKUENSI makan. Sayangnya pengurangan 2 aspek ini tidak dianjurkan karena memiliki dampak sebagai berikut.
- Mengurangi volume makanan yang berarti menurunkan asupan gizi yang penting untuk fungsi, imunitas, dan kekuatan tubuh.
- Memperlambat proses metabolisme tubuh, sehingga pembakaran total energi di akhir hari lebih rendah. Metabolisme yang lebih lambat telah diteliti sebagai salah satu penyebab fisik kembalinya kegemukan setelah berdiet dengan pengurangan ukuran dan frekuensi makan.
- Mengganggu kesehatan organ pencernaan, asam lambung meningkat menimbulkan sakit pada maag.
- Menimbulkan fluktuasi gula darah yang tajam, yang apabila dibiarkan berlarut-larut akan merupakan gerbang menuju diabetes tipe II.

Dengan begitu besar kerugian dari mengurangi ukuran dan frekuensi makan, ada baiknya kita beralih pada pendekatan yang lebih sehat, yakni:
1. Memilih sumber & penyajian makan yang tepat
2. Makan dengan frekuensi yang teratur (3 meal + snack sehat)
3. Sehingga jumlah bisa tetap mencukupi untuk mencegah kelaparan / lemas / kurang nutrisi.

Stay strong & healthy!
Ade Rai
Follow @CerdasFitness

3 Tips Untuk Action Sehat Hari Ini



Penulis : Ade Rai ( Profil Penulis ) 

Mengambil tindakan terkadang begitu sulit. Kata "just do it" untuk memulai kebiasaan sehat (berolahraga, atur pola makan, tidur teratur) tampaknya lebih mudah diucapkan daripada dijalankan.Berikut ini adalah 3 tips untuk mewujudkan apa yang telah menjadi rencana / niat selama ini:
1. Jalankan dulu, pelajari sambil menjalankan
Learning by doing adalah istilah yang kerap kita setujui sebagai sikap memulai yang baik. Contoh, dengan melangkahkan kaki ke sarana olahraga, tentunya kita akan terekspos dengan lingkungan baru tempat informasi dan pakar / orang-orang yang lebih berpengalaman berkumpul.
Internet, majalah kebugaran, talkshow radio merupakan sumber informasi yang cukup memadai, termasuk instruktur /personal-trainer yang bertugas di pusat-kebugaran. Tanpa melangkahkan kaki ke sana, bagaimana kita bisa terpapar dengan pengetahuan, pengalaman, dan keahlian baru?
 
2. Walaupun salah, toh memulai dengan berhati-hati
Dengan banyaknya informasi yang tersedia, ada kemungkinan beberapa informasi yang kita terapkan dalam berolahraga / mengatur pola makan adalah keliru. Tetapi setidaknya, kita selalu bisa melindungi diri kita dengan common-sense, bahwa kita perlu memulai aktivitas olahraga dengan berhati-hati, pemanasan yang cukup, dan tidak melebihi kemampuan diri kita.
Mengurangi konsumsi gula pasir, nasi putih, dan menu gorengan...lalu menggantinya dengan makan lebih banyak sayur dan protein (ikan, tempe, telur, atau ayam). Prioritaskan membeli sumber makanan yang tepat, dan bisa dimulai hari ini.
3. Yakini bahwa kerugian menunda lebih besar dan nyata daripada memenangi argumen / beralasan hari ini.
Memberikan banyak alasan untuk tidak memulai hanya akan membuat kita menang dalam ucapan hari ini, tetapi pada akhirnya hanya akan menjauhkan kita dari tubuh yang lebih sehat dan langsing.
Daftarkan diri ke sarana olahraga, atau mulailah untuk bergerak secara sistematis di rumah (push-up, crunches, squats) bisa dijalankan tanpa harus keluar biaya apapun. Yang mahal bukan gaya hidupnya, bukan alatnya, bukan makanan dietnya...yang mahal adalah motivasinya. Tanpa motivasi, bayaran tubuh tak sehat terlalu mahal untuk kita hadapi.
Stay strong & healthy!
Follow Ade Rai on Twitter @CerdasFitness - FREE daily fitness tips