Saturday, November 10, 2012

Jokowi Dilantik Jadi Pemimpin Jakarta ke-16




15 Oktober 2012, Gubernur DKI Jakarta terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), akan dilantik. Keduanya dilantik untuk menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI periode 2012-2017.

Pelantikan ini sebenarnya mundur dari jawal semula tanggal 7 Oktober 2012 sesuai dengan berakhirnya masa jabatan gubernur sebelumnya, Fauzi Bowo. Karena ada masa jeda itu, selama Jokowi belum dilantik Fadjar Panjaitan, Sekretaris Daerah DKI Jakarta, bertindak sebagai Pelaksana Tugas Harian Gubernur DKI Jakarta sejak 8 Oktober 2012 hingga 15 Oktober 2012.
Jokowi akan menjadi pemimpin DKI Jakarta yang ke-16 jika mengurut pada pejabat yang memimpin Jakarta pertama yaitu Suwiryo, yang saat itu menjabat Walikota Jakarta periode 1945-1947. Berikut urutan pemimpin DKI Jakarta sejak tahun 1945:
1. Suwiryo (1945 – 1947) -  Sebagai Walikota Jakarta
2. Daan Jahja (1948 -1950) -   Sebagai Gubernur (Militer) Jakarta
3. Suwiryo (1950 – 1951) - Sebagai Walikota Jakarta
4. Syamsurijal (1951 – 1953)   Sebagai Walikota Jakarta
5. Sudiro (1953 – 1960) - Sebagai Walikota Jakarta
6. Dr. Soemarno (1960 – 1964) – Sebagai Gubernur (periode pertama)
7. Henk Ngantung (1964 – 1965) – Sebagai Gubernur
8. Dr. Soemarno (1965 – 1966) – Sebaga Gubernur (periode kedua)
9. Ali Sadikin    (1966 -            1977) – Sebagai Gubernur.
10. Tjokropranolo (1977 – 1982) – Sebagai Gubernur   
11. Soeprapto (1982 – 1987) – Sebagai Gubernur
12. Wiyogo Atmodarminto (1987 – 1992) – Sebagai Gubernur   
13. Soerjadi Soedirdja (1992 – 1997) – Sebagai Gubernur
14. Sutiyoso (1997 – 2007) – Sebagai Gubernur
15. Fauzi Bowo (2007 – 2012) – Sebagai Gubernur
16. Joko Widodo (2012 – 2017) – Sebagai Gubernur

Sumber: Wikipedia.

Thursday, November 8, 2012

Inilah Kisah Pengusaha Sukses yang Berusia 18 Tahun

Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.
Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.


http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2571227218381092063#editor/target=post;postID=3189773869765205976

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.
Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.
Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.
“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.
Victor memang lebih dulu mengelola bisnis bakso, ketimbang teh yoghurt. Outlet baksonya baru ada lima, kesemuanya ada di Malang. Tahun ini, ia berencana nambah lima outlet. Bisnis yang dikelolanya ini belakangan berkembang ke minuman. Alasannya sederhana, kalau orang makan bakso pasti butuh minum.
“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.
Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.
Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari. Sedangkan kebutuhan daging untuk bakso sekitar 20 kg per hari.
“Usaha bakso tetap akan jadi core business saya karena omzetnya besar. Kalau teh hanya sampingan. Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.
Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.
Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya.


sumber : http://www.putunik.com/inilah-kisah-...-18-tahun.nick